WhiteShirt-Studio

Hari genee…. sekolah ga Internetan?!

Posted on: December 15, 2009

Suatu hari tamanku memberi kabar bahagia, dia diangkat menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah swasta yang lumayan terkenal di Jakarta Selatan, tapatnya di daerah Tebet. Hebat banget, umurnya baru 30-an, dan dia mengalahkan beberapa guru senior yang menjadi pesaingnya disana. Dia meceritakan proses seleksinya dengan menggebu-gebu, akupun ikut mengebu-gebu, padahal gak jelas kenapa bisa ikut-ikutan (kan dia yang diangkat jadi kepala sekolah….hehehehehe).

Dia begitu semangat saat dia mulai presentasi ke pihak yayasan tentang idenya yang brilian untuk memajukan sekolah swasta itu, maklum, sekolah swasta sekarang lagi ‘njelimet’ mikirin bersaing dengan sekolah negri yang menjadi favorit banyak siswa, apalagi lagi gencar-gencarnya sekolah gratis (walau kenyataannya gak gratis juga, bahkan di Jakarta bayarannya makin mahal).

Idenya adalah menggalakkan dengan serius bahasa Inggris dan ICT disekolah, hal ini karena kedua hal itu akan menjadi sangat penting di masa globalisasi kedepan, dan ini akan menarik minat para siswa dan orang tuanya jika di seriuskan. Goal dia adalah, paling tidak semua siswa yang lulus dari sekolah itu harus bisa berbahasa Inggris dan menguasai ICT.

Dia merencanakan banyak program agar siswanya bisa bahasa Inggris disekolah, dengan metode pengajaran bilingual, bahkan dia tak segan menyewa native speaker untuk ditempatkan di tiap kelas agar siswanya gak canggung lagi berbahasa Inggris. Gak cuma siswa, guru-gurunyapun harus mulai bisa mengajar dengan bahasa Inggris, karena itu dia membuat program kursus rutin untuk guru-gurunya.

Dalam bidang ICT dia juga sudah membuat banyak program, hanya saja  saya yang mendengarkannya merasa teman saya ini agak kurang yakin dengan program yang dirancangnya sendiri untuk mendukung ICT.  Membayangkan sekolah yang haitek, eh Hi-Tech (kaya merk peralatan elektronik jaman dulu…hehehe) memang kadang membuat bingung, mau mulai dari mana? Infrastrukturnya-kah atau pembelajarannya? Apa harus memasang internet berwifi dan server canggih? Atau belajarnya pake laptop semua dan guru tinggal menerangkan dengan proyektor? Belum lagi perangkat pendukung yang bisa menelan banyak biaya dan bisa memberatkan orang tua siswa.

Departemen pendidikan memang sudah memberikan salinan buku pelajaran ICT ke untuk sekolah, dari tingkat SD sampai SMA, tapi kalo cuma sekedar teks book, dan cara mengajarnya masih kaya jaman “doeloe”, yah kalah dong sama bang Doel anak sekolahan…hehehehehehe.

Sebenarnya untuk menerapkan ICT disekolah, pertama harus memiliki wawasan ICT dulu (maksud loe?!), punya sudut pandang dan pemikiran penggunaan ICT dulu, terbiasa bergaul dengan internet dan  perangkat komputer.  Sebaiknya memang ada jaringan internet  (ber Wi-fi) agar konsepnya bisa berjalan, tapi dengan adanya warnet dan internet yang sudah masuk kerumah-rumah bahkan bisa juga lewat handphone, dapat  memudahkan guru untuk mengajar disekolah.

Dasar pemikiran Pertama adalah peper less. Saya teringat ada dosen yang males di waktu dikampus, dia ga seperti dosen lain, yang membawa setumpuk kertas, buku dan laptop. Pak dosen yang satu ini cuma menjinjing usb dan laptop mininya, lalu menerangkan pelajaran dengan  slideshow yang tersorot proyektor, kebetulan proyektor udah nempel di tiap kelas. Mengajarnya persis seperti orang yang presentasi produk baru, suasana kelas jadi santai. Diakhir kelas dia meng-copy-kan bahan slideshownya ke usb murid-murid.

Pemikiran kedua, adalah kembali ke CBSA, atau cara belajar siswa aktif.  Sistim ini memang ga berhasil dizaman orde baru, tapi saya yakin, dizaman ini sangat berhasil dengan adanya Internet. kok bisa saya percaya diri banget?, ya iyalah, wong dulu dikampus digituin sama dosen. Kembali ke dosen yang pemalas tadi, selain pak dosen ini meng-copy-kan bahan pelajaran yang diterangkan sebelumnya ke usb murid-murid, tak lupa dia memberikan tugas untuk mencari tau sebanyak mungkin tentang bahan pelajaran selanjutnya di Internet dengan Google, bahan tersebut tidak di print lalu dikumpulkan saat kelas selanjutnya, tapi dikumpulkan ke email si dosen 24 jam sebelum kelas dimulai.

Tugas yang dikumpulkan ga mesti berbentuk teks bisa multi media, seperti rekaman video dr youtube, tapi untuk teks harus ditulis ulang  (artinya bukan copy-paste) dalam bahasa Indonesia, keliatannya mamang ‘cemen’ udah Hi-Tech tapi masih pake bahasa Indonesia, belakangan saya sadar, ternyata sebagian besar literatur di Internet pake bahas Inggris, jadi kalo tugasnya ditulis dengan bahasa Inggris, ga akan terlalu susah dan memperlebar kesempatan untuk copy-paste, itung-itung belajar jadi penterjemah (memang dosen yang licik, eh cerdik…hehehehehe).

Ketiga adalah pemanfaatan segala macam sumberdaya yang ada di Internet. Mungkin siswa akan malas kalo belajarnya cuma mendengarkan omongan dari sang guru, apalagi kalo menulis didikte, akan lebih menarik kalo sang guru mengajarkan dengan menggunakan perangkat multi media. Sekolah tidak perlu membeli software khusus yang harganya mahal. Para guru bisa memanfaatkan video-video yang didownload dari youtube, mendownload beberapa game pendidikan yang bisa di cari dengan google, ini pasti akan membuat siswa merasa senang. Coba bayangkan, menonton Star trek untuk pelajaran ilmu pengetahuan alam, menonton film Naga Bonar untuk sejarah (bisa ngga yah?) atau yang lainnya, Setelah itu mulai membuka dengan diskusi-diskusi mengenai pelajaran, asyik bukan?

Keempat adalah asistensi jarak jauh. Kadang seorang guru berfikir mengajar hanya didalam kelas dengan waktu yang ditentukan, tapi di zaman ini, jika kita mau mendekati sang murid dan mendorongnya agar maju, maka asistensi harus terus di digalakkan (asistensi maksudnya bimbingan guru). Kembali ke dosen saya yang malas tadi, pak dosen ini dengan senang hati bertukar id mesengger-nya ke tiap murid, dan terkadang menyapa di luar jam belajar. awalnya kelihatan ganjen dan sok gaul, tapi ini membuat murid-murid gak segan-segan untuk bertanya tentang tugas yang diberikan di kemudian hari.

Terakhir adalah manfaatkan akses-akses yang di gauli (what?!) para siswa di internet, seperti facebook, twitter dll. terkadang siswa lebih maju wawasan ICT nya ketimbang para guru, tapi guru juga ga boleh kalah, dekati para siswa untuk aktif disekolah melalui akses ini, berikan pengayaan-pengayaan baru dan  berikan perhatian untuk membimbing mereka.

Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dilakukan agar sekolah mengajarkan dan menggalakkan ICT ke para siswa, seperti membiasakan siswa berkomunikasi dengan email dan messenger, mendorong agar semua siswa membuat blog, dan lainnya. Tidak harus mengeluarkan biaya yang terlalu banyak untuk infrastruktur, tapi kalo bisa lebih akan sangat baik, asal penggunaannya effektif, misalnya bisa mengajak siswa memiliki netbook yang harganya kini semakin murah (ada yang harganya hingga 2 jutaan loh…) agar siswa semakin terdorong untuk belajar dengan paperless dan selalu terkoneksi ke internet disekolah.  Nah jadi apapun ide pengembangannya perlu ada dasar pemikiran wawasan dan gaya hidup ICT sebelumnya, jadi pengembangan ICT-nya juga affektif.

Sekilas soal dosen malas yang saya ceritakan tadi, bukan berarti dosen ini malas-malasan dalam mengajar, tapi ini lebih pada gambaran tentang seorang dosen yang tidak sibuk memikirkan perabotan yang banyak dalam mengajar karena dia sangat memanfaatkan ICT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: